get have fun in my blog
Sabtu, 11 Februari 2012
cerita rakyat
Pesan Terakhir Seorah Ibu
CERITA RAKYAT MALUKU
Kisah ini bermula di daerah Maluku Utara, tepatnya di daerah Tebelo. Beratus tahun yang lalu di suatu rumah yang berdindingkan daun rumbia diamlah satu keluarga. Sang ayah seorang nelayan yang siang dan malam hidupnya diatas lautan, mempertaruhkan nyawa untuk menghidupi anak istrinya.
Sang ibu adalah wanita setia dan sangat bijaksana. Mereka memiliki dua orang anak. Yang sulung anak perempuan bernama O Bia Moloku. Kecantikannya melebihi kecantikan ibunya. Sedangkan anak yang laki-laki bernama O Bia Mokara. Ia Tampan, dan berperawakan mirip ayahnya.
Pada suatu hari ayah mereka pergi melaut dan seperti biasa sebelum ayah mereka bertolak kelaut, tak lupa ditinggalkan makanan dan teluar ikan pepayana di rumahnya. Beberapa hari setelah kepergian ayahnya melaut, ibunya pergi ke kebun. Sebelum ibunya pergi ke kebun ia berpesan kepada kedua anaknya. "Hai anak-anakku, jangan kamu makan telur ikan yang ditinggalkan ayahmu ini, apabila kamu memakannya akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan". Ibunya berkata dengan sungguh-sungguh tetapi mereka berdua hanya tertawa saja. Setelah ibunya selesai memberi nasihat maka pergilah ibunya ke kebun.
Kira-kira tiga jam berlalu, adiknya O Bia Mokara merasa lapar. Dimintanya makanan dan telur ikan. Kakak nya O Bia Moloku tak mau memberikan permintaan adiknya. Adiknya menangis tersedu-sedu tetapi O Bia Moloku tetap tidak mau memberikan telur ikan itu. Semakin lama semakin keras saja tangisan adiknya. akhirnya O Bia Moloku tak tega melihat adiknya mengangis terus-menerus, dan telur ikan itu segera diberikan kepada adiknya. Sambil tertawa adiknya memakan telur ikan itu dengan lahapnya. Setelah memakan telur sampai habis, beberapa sisa telur ikan itu melekat pada gigi adiknya.
Tak lama kemudian ibunya kembali dari kebun membawa singkong, pepaya, dan sayur-sayuran. Setelah selesai membersihkan badannya, ibunya menggendong O Bia Mokara dan ia segera menyusukan O Bia Mokara. Setelah itu, ibunya bernyanyi sambil menari sambil menggendong O Bia Mokara yang tertawa gembira karena senang berada dalam pelukan ibu yang sangat didambakannya. Namun tiba-tiba ibunya dikejutkan dengan terlihatnya sisa telur ikan yang melekat pada gigi O Bia Mokara. Suasana sukacita segera berubah menjadi keheningan yang mendalam. ibunya tertegun sebentar, sekujur badannya menjadi dingin gemetar dan marah sekali kepada kedua anaknya.
Amarah ibunya tak dapat ditekan lagi, ia segera melepaskan O Bia Mokara dan segera melarikan diri menyusuri pesisir pantai. Sambil menggendong O Bia Mokara yang menangis terus, O Bia Moloku mengejar ibunya sambil memanggil-manggil ibunya. "Mama, Mama, O Bia Mokara nangis terus Mama!". Namun panggilannya hanya dijawab oleh ibunya."Peras saja daun katang-katang, ada air susunya!". Setelah tiga kali O Bia Moloku memberikan air susu dari daun katang-katang kepada adiknya, ibunya menerjunkan diri ke air laut. Sementara menyelam ia menemukan sebuah batu yang timbul di permukaan air. Naiklah ibunya ke atas batu itu dan berkata, "Terbukalah agar aku dapat masuk". Batu itu terbuka, lalu ibunya pun masuk ke dalam batu itu. Dengan segera ia pun berteriak, "tutuplah!", maka batu itu pun tertutup selama-lamanya tanpa bekas.
sumber: kumpulan cerita rakyat nusantara, bintang pustaka abadi solo
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar